Kamis, 06 Desember 2012
0 Sebuah perjalanan awal dari ujung kuku kaki bicara.
Sreeet" suara resleting ranselpun dikencangkan, malam itu suara hujan agak rintik2 perlahan mulai terdengar ditelinga, setelah berjalan beberapa ratus meter dari kos-kosan sampailah mereka di sebuah jalan malam itu fajar dan ewank mulai melangkah menuju dalam sebuah angkutan menuju kampung rambuta, sambil menikmati jalanan jakarta yang sedikit agak macet sedikit candaan dan curhatan dari ewank menemani suasana perjalanan yang bergerak melambat diantara kumpulan-kumpulan kendaraan bermotor lainnya yang setiap hari merayapi ibu kota bagai keremunan lalat ditempat pembuangan sampah.
beberapa lama perjalanan berlalu akhirnya sampai juga disebuah terminal kampung rambutan dimana di terminal ini perjalanan menuju tempat selanjutnya akan dimulai, sembari menunggu rombongan lain yang juga akan berangkat, mereka berdua menunggu disebuah tembok disebuah sudut terminal, selang beberapa saat, "ASEEM wank" tiba2 suara jafar menggerutu sambil menepok jidatnya. "Kenapa lu pak" Ewank terlihat kebingungan. "Hape gw kayanya ketinggalan di Angkot yang tadi dah" lalu beberapa saat kemudian jafarpun mengejar jejak angkot yang dinaikinya tadi dengan harapan menemukan hapenya yang hilang tadi, sambil berlari dengan sepatunya yang ternyata kekecilan, beberapa menit mencari angkot yang dimaksud dan hasilnyapun nihil "yah beli hape baru lagi deeh kalo kaya gini mah huuuhft" jafar mengeluh lemas tanpa banyak pikiran lain karena jika terus dibayangkan dan berlarut-larut yang ada hanya akan mengganggu perjalanan yang akan dilalui. "kaga dapet wank yaudahlah gampang beli lagi" sambil jalan dengan lemas Jafar mendekati Ewank "yaudahlah pak selow aja nanti kita beli lagi, uang masih banyak untuk dimuka bumi ini yang akan dibagi oleh tuhan untuk orang-orang seperti kita ini hahahaa" dengan kata-kata konyolnya Ewank coba menghibur Jafar, selang beberapa waktu rombongan yang lainpun datang, pada malam itu ada sekitar dua belas orang yang akan melakukan pendakian kegunung Gede dan Jafar dan Ewank adalah dua orang yang paling tua diantara rombongan itu, karena mereka berdua merupakan angkatan paling tua dari semuanya,
tak ada yang spesial selama perjalanan dalam bis antar kota yang ACnya dingin banget padahal diluar cuacanya hujan lengkaplah sudah rombongan calon-calon pendaki Jafar, Ewaank, Zuli oki Idun, Dina, Sulam Aji, Yusuf, Bono, Diki, Raka, Tejo. mereka mulai kedinginan dalam perjalanan didalam bis, untuk menghangatkan suasana Jafar mencoba untuk menghangatkan suasana dengan candaannya yang terkadang agak rasis dan sebagainya, perjalanan didalam Bis antar kota terkesan tak ada yang sepesial, setelah sampai di destinasi langit masih belum bersahabat dengan hujannya yang terkesan rintik-rintik dan terkadang meledek dengan sedikit derasnya...
selang beberapa waktu menunggu hujan berhenti akhirnya seluruh romboongan naik angkot untuk menuju keatas karena memang layaknya yang cukup jauh menelusuri kebun raya cibodas....
Sampai diCamp Green Ranger mereka menginap semalam disebuah kamar bilik yang disediakan untuk para pendaki yang akan beristirahat dan mereka pun menghabiskan waktu satu malam untuk melanjutkan perjalanan pada paginya..
Selama dalam tempat peristirahatan mereka berusaha untuk beradaptasi dengan cuaca dingin kaki gunung, dan akhirnya pagi menjelang perjalanan pun dimulai menuju pos pertama dimana biasanya di pos ini para pendaki melakukan pemeriksaan perlengkapan, setelahselesai melakukan pemeriksaan di pos pertama perjalananpun dilanjutkan, pada saat itu jam sudah menunjukan pukul 7 pagi sudah satu jam perjalanan dilalui agak terasa kurang penuh stamina yang dirasakan, karena memang semalaman tadi tidurnya kurang poool maklum kalo orang lagi kumpul-kumpul kebanyakan ngobrolnya daripada diemnya....
Sejam berlalu kaki sudah mulai terasa sedikit agak keram dirasakan oleh Jafar, memang kaki Jafar ini pernah patah jadi mungkin ada efek yang kurang diinginkan akibat patahnya kaki tersebut, dalam rombongan ada 12 orang dan salah satunya perempuan bernama dina sepenjang perjalanan dina menjadi pikiran Jafar, Ewank dan kawan-kawan yang lainnya namun disitu ada pacar dina yaitu Yusuf, setelah perjalanan agak lama pukul 8 rombongan sudah sampai telaga warna ditelaga itu airnya terlihat sangat jernih dengan kontras ikan-ikan yang berenang didalamnya, sungguh pemandangan yang menghipnotis dan membius mata, sesaat beristirahat di telaga itu perjalananpun dilanjutkan, kembali perhatian tertuju ke dina, yang terlihat sudah cukup lemah kelelahan, tapi entah kenapa si Yusuf malah lebih mementingkan pembuktian diri dengan balapan dengan Aji, alhasil tugas leader mereka yaitu Sulam terasa sangatlah berat dikarenakan bawaan yang dia bawa memang cukup berapa yaitu berupa perlengkapan tenda dan sebagainya. sampai pada akhirnya dalam setengah perjalanan rombongan mulai terbagi-bagi jaraknya dan keadaanpun semakin melelahkan pada awalnya Jafar dan Ewank ada didepan bersama Yusuf dan aji, namun ketika melihat keadaan Sulam dan Dina yang ada dibelakang terasa sangat berat untuk duluan melanjutkan perjalanan dan akhirnya Jafar dan ewank pun ikut berada dirombongan paling belakang, perjalanan sudah berlalu cukup lama ketika kondisi sudah cukup lumayan sulit untuk mencapai pos selanjutnya saja perjalanan terasa sangat berat, dalam perjalanan yang sudah hampir tengah hari keadaan sudah mulai terasa cukup sulit, melihat keadaan kawan-kawan yang lain dimana setiap tikungan mereka beristirahat sepertinya akan makan waktu yang cukup lama, memang bagi para pendaki yang sudah ahli perjalana di gunung ini hanya membutuhkan waktu sekitar 4 sampai 6 jam namun bagi para pemula seperti kami keadaan terlihat cukup berbeda, belum lagi sepanjang perjalanan ada saja kejadian yang cukup membingungkan, dalam arti bingung dalam hati Jafar ini kalo kaya gini gw kudu ketawa apa kasian"
melihat kawan-kawan yang lain ada yang muntah dan menunduk mengeluh dengan wajah kucelnya. beberapa kalipun Dina muntah dan Buang air besar dijalan ditemani Sulam, apa boleh dikata jujur melihat Sulam walaupun tubuhnya memang kuat terlihat cukup sulit juga untuk Sulam melihat posisinya sebagai leader perjanana dimana dia harus menjaga Dina, melewati Pos Kandang badak rombongan akhirnya berkumpul dan memasak makanan dengan sedikit mengeluh sulam menggerutu "Kawan-kawan kalo bisa kita jalannya bareng-bareng yah biar ga kerasa cape" awalnya sih pada bilang okee,
tapi yaaahaa perjalananpun dilanjutkan naik, naik dan naik semakin naik tak tertahan terus naik rombonganpun terus naik, beberapa menit perjalanan sih semuanya berjalan berbarengan sampai akhirnya karena faktor fisik dari masing-masing individual berbeda akhirnya, rombonganpun berjalan tidak berbarengan kembali masing-masing rombongan terpisah jarak yang lumayan ciukup jauh, dan yang sampai pada akhirnya bertemu di tanjakan setan, di pos kandang badak Sulam sebenarnya sudah memberi tahu kepada semua rombongan agar bisa kepuncak bersama-sama, namun karena jarak antara satu sama lain memang sudah jauh bahkan boleh dibilang sudah berpisah, sampai-sampai sandi monyetpun sudah tidak berguna karena tidak saling menjawab sahut-sahutan yang, dan ternyata Yusuf dan Aji sudah sampai puncak duluan memang keadaan yang mengecewakan tapi ya jangan sampai perjalanan berubah jadi kekacauan jadi yahhh marahnya cukup disimpan dihati belum lagi ada salah satu dari rombongan yang wataknya memang maunya menang dan bisa dibilang agak manja, memang kalo diatas gunung kejelekan seseorang pasti bakalan keluar semua "i don't know why", masih dalam tahap pendakian yang cukup berat Jafar dan Ewank berusaha menahan emosi yang ga jelas, belum lagi persediaan makanan Jafar yang niatnya untuk 3 hari dihabiskan oleh rombongan yang memang agak sedikit kacau ini,, apa mau dikata emosi?? yasudahlah nikmati saja. Jafar yang memiliki perawakan tinggi besar memang membawa beban yang cukup berat dikarenakan dia membawa sebagian dari perlengkapan Ewank karena ewank hanya membawa tas kecil, kalo kata rombongan yang lain "bang tas lu ngeliatnya udah bikin gw mules" dan mungkin karena beban yang cukup besar ini sempat terasa hemstring pada otot paha kanan jafar, namun hal itu tidak berlangsung lama karena Jafar sedikit mengerti tentang urat dan diapun berhasil menyembuhkanya sendiri.
Tanjakan setanpun sudah terlewati akhirnya puncakpun sudah ada dipelupuk bayangan mereka dalam hati Jafar yang juga penggemar novelnya Donny Dirgantoro "Puncak itu sudah kutarus 5cm didepan keningku"
namun apa boleh dibuat jalur menuju puncak sangat-sangatlah berat belum lagi keril yang menempel dipunggung terasa sangatlah berat Jafar dan Ewank berusaha untuk melawan batas kemampuan mereka, dengan terengah-engah dan sisa tenaga yang cukup kembang kempis, mereka terpaksa menghentikan perjalanan dijalur melihat sebagian rombongan sudah ada yang sudah sangat kelelahan dan tidak mampu lagi berjalan belum lagi Dina dan Sulam ada dibelakang akhirnya jafar memutuskan untuk berhenti dijalur dan menunggu Sulam juga Dina, dalam peberhentian jalur itu ada Jafar, Ewank, iko, bono, dan zuli, akhirnya dengan beberapa inisiatif Jafar membagi tugas pada yang ada disitu dimana Zuli menyusul Dina dan Sulam yang ada dibawah dan Bono menyesul Yusuf dan Aji yang ada dipuncak, akhirnya semua berkumpul dipemberhentian tempat Jafar tadi, melihat keadaan Dina dan teman-teman yang lain udah jelas kondisinya Jafarpun menyalakan lilin gatau juga lilin itu fungsinya buat apa tapi memang ada hal yang cukup menyebalkan dipendakian gunung gede ini dimana para pendaki tidak boleh menyalakan api, alhasil hanya lilin yang mencoba untuk menghangat kondisi beberapa diantara mereka, sialnya kembali kabutpun turun dan haripun gelap keadaan mulai kacau akhirnya Sulam memutuskan untuk membangun tenda dijalur, sesaat Yusuf dan ajipun tiba denagn cukup kesal Sulam memarahi mereka, tapi yasudahlah akhirnya tentapun didirika dijalur Dina di gendong oleh Yusuf menuju kearah tenda, setelah tenda untuk Dina didirikan akhirnya hujanpun turun keaaan makin kacau dina dan sudah aman ditendanya ditemani yusuf, "hahahah apa iya kalo dikeadaan begini yang egonya koplak sikondnya dapet yang enak" tapi yasudahlah cukup jadi catatan :) toh ada yang sakit jadi yang waras ngalah, kemudian tenda kedua didirikan berhubung pemikirannya tenda kedua ini yang berdiriin orang banyak jadi ya kalo bisa tenda kedua isinya kudu lebih banyak tapi sialllllll, tenda kedua kapasitasnya cuma 3 orang dan lucunya harus diisi oleh 5 orang awalnya dan akhirnya dijejali 6 orang kalo diibaratin sarden ikan yang gede terjebak di kaleng yang kecilmah kalah ama keadaan ditenda tersebut, beeeeeeerrrrr sambil nahan dingin dengan jaket tahan angin berusaha tidur tapi harus gantian duduk dan tergeletak karena memang tempat yang sangat sempit, dan akhirnya Jafar dan bono harus gantian tidur, dalam hati Jafar berkata kenapa gada ngadi rasanya "kalo nurutin esmosi ya kudu esmosi ini tapi ya gimana hahahahha" memang ketawa hahahaha adalah jalan menuju indah diantara gerutu yang jelas dalam keadaan yang serba salah, akhirnya malam berlalu agenda masakpun dimulai, sekilas terdengar "uduk uduk uduk uduk" yang dinanti sudah datang engan heran diatas gunung gini kenapa ada tukang nasi uduk hahaha kalo dipikir-pikir memang ya orang kalo buat supaya dapur ngebul gunung kunaiki lautan kusebrangi hhahaha... akhirnya nasi uduk dengan harga 5rebu rupiah itupun disantap what the heelll uduk paan nih Jafar berceloteh isinya cuman nasi secentil banget ama telor dadar yang cuma tiga keriwil, soun yang cuma beberapa lembar jumlahnya persih bulu ketek nenek-nenek yang udah mulai pada rontok, yaudahlah daripada kangen nasinya jadi impian kita makan aja,,, "Horee ketemu nasi juga" dalam kondisi apapun berusalah untuk selalu ceria karena kalo mau berantem maupun ribut ini bukan cuma tentang emosi dan bonyok2an tapi juga menyangkut kebersamaan yang mungkin ujung2anya juga ga bersama, tapi sebisa mungkin dewasalah dengan ekspresi tertawa...
setelah puas berpoto-poto dipuncak yang memang jaraknya hanya beberapa puluh meter dari tenda akhirnya perjalanan pulangpun dimulai tak ada yang spesial selama perjalanan pulang hanya sekali Jafarnya salah langkah danEngkelnya terkilir, dan Jafar muntah karena masuk angin cukup malu siiih tapi gada yang liat, dalam perjalanan turun semuanya berkelompok Aji dengan Sulam Ewank, Yusuf dengan Dina, dan kawan-kawan lainnya berkelompok masing-masing, tapi diantara semuanya Jafar turun sendiri, cukup mencekam hutan jika dilalui dengan posisinya jalan kaki sendirian tapi ya apa mau dikati sesekali Jafar berpapasan dengan pendaki lain dan saling menyapa, sambil mengatur nafas 1 1 2 2 artinya satu kali tarikan satu kali tarikan lagi dan dua keluarkan dan keluarkan lagi. Akhirnya semua rombongan sampai di pos awal tempat para pendaki turun dan istirahat, yang pertama sampai Sulam, Ewank, Oki dan Aji kemudian disusul Jafar yang datang sendirian, lalu beberapa waktu kemudian yang lainnya datang dan yang terakhir datang Yusuf dan Dina "nah gitu dong bareng pan romantis" salah satu rombongan ada yang nyeletuk, setelah istirahat beberapa lama sambil meminum teh manis yang dibeli Idun semuanya melanjutkan perjalanan ke kebun raya Cibodas, dengan tololnya Jafar bersujud dijalanan aspal "Sukuur yaaa Tuhann udah nyampe dtaran lagi Ilove You emak pacar dan lain2" dalam hati Jafar mengucap syukur lalu selanjutnya perjalanan dilanjutkan menuju Jakarta tercinta, dan sialnya dalam perjalanan pulang Ewank kerampokan diangkot arah kampung rambutan menuju Tanjung barat namun alhamdulilah dengan sedikit perlawanan, tak ada barng yang hilang semuanya selamatt.... haaaaaaaaaaahhhh capee
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar